PROYEK GANESHA TNI AU
Sebelum adanya proyek Ganesha TNI Angkatan Udara telah bertekad untuk meningkatkan dan mengembangkan sistem pendidikan di kalangan TNI AU untuk mengimbangi perkembangan alutsista udara yang selalu di barengi dengan penerapan teknologi mutakhir. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu cepat dan dalam hal ini TNI AU berusaha merintis kerjasama dengan PT Telemedia Nusantara sejak Nopember 1981 dan ditingkatkan lagi pada tanggal 25 Agustus 1982 dengan penandatanganan kontrak jasa konsultan pengembangan sistem pendidikan.
Kontrak jasa konsultan tersebut meliputi pengembangan kurikulum dan penyusunan bahan pendidikan, Kursus Instruktur (ITC), Sekolah Bahasa Inggris Teknik, Aviation Electronic and Electricity Course, Basic Mechanical Skill Course, Instructional System Development serta survey dan penyusunan kebutuhan training aids untuk pendidikan jurusan teknik pesawat terbang, elektronika, senjata dan lain-lain.
Proyek Ganesha adalah kerjasama TNI AU dengan Telemedia Program (Amerika Serikat) untuk pengembangan pendidikan dan transfer tehnologi pendidikan. Dari awalnya Proyek Ganesha, TNI AU dan Telemedia bekerjasama untuk menghasilkan methodologi pendidikan dan material bagi Mekanik dan Teknisi serta Penyelia. Keberhasilan program ini diukur dari peningkatan kemampuan TNI AU untuk mencukupi kebutuhan sendiri dalam pengembangan pendidikan dan program manajemen. Dengan alasan itulah maka program kerjasama dilaksanakan dan dikembangkan mulai April 1983.
Di samping pendidikan-pendidikan elektronika, sejak tahun 1983 Lanud Sulaiman (pada saat masih ada Wing Dik 2) juga diserahi tugas dan tanggung jawab untuk menyelenggarakan pendidikan dengan sistem ISD (Instructional System Development atau Pengembangan Sistem Pendidikan) yang didukung oleh fasilitas/ peralatan belajar yang lengkap. Proyek Ganesha diarahkan untuk mendidik calon-calon bintara teknisi TNI AU dan merupakan Paket Pendidikan selama kurang lebih 2 tahun melalui pentahapan-pentahapan.
Pendidikan personil TNI Angkatan Udara pada hakekatnya merupakan pembekalan pengetahuan dan keterampilan dalam membentuk pribadi serta mengembangkan mutu kemampuan personil TNI AU. Pendidikan juga merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian pemeliharaan personil sehingga pelaksanaanya tidak dapat dipisahkan dengan penyelenggaraan pembinaan personil lainnya. Oleh karena itu untuk mencapai sasaran dan keberhasilan di dalam penyelenggaraan pendidikan diperlukan suatu sistem. Salah satu sistem pendidikan di TNI AU yang digunakan untuk memperoleh hasil didik sesuai kebutuhan di dalam pembinaan personil TNI AU adalah Instructional System Development (ISD).
Sehubungan dengan kebutuhan personil TNI Angkatan Udara yang kian mendesak dihadapkan dengan pengadaan, perawatan, pemeliharaan, perbaikan serta pengoperasian alutsista yang canggih, diperlukan penyiapan yang mantap di segala aspek kebutuhan yaitu berupa paket pendidikan yang membekali penguasaan bahasa Inggris yang memadai mengingat hampir seluruh referensi yang menyangkut alutsista udara adalah produk luar negeri yang menggunakan bahasa Inggris.
Kesadaran dan antisipasi mengenai hal tersebut diatas mulai terasa saat para teknisi senior (bintara tinggi) yang mengenyam pendidikan luar negeri di Polandia yang dikenal dengan Proyek Naya mendekati masa purnabakti. Kondisi ini mendorong untuk segera diadakan pembenahan disegala aspek manajerial, struktural maupun operasional. Oleh karena itu kaderisasi personil teknisi merupakan kebutuhan urgen yang harus segera dimulai penyiapan dan pemrogramannya. Alih teknologi pendidikan (the transfer of training technology) merupakan media untuk memberdayakan kualitas sumber daya manusia dengan pembekalan kebahasaan dan keteknikan.
Sejak Tahun 1983 dimulailah alih teknologi pendidikan tersebut dengan diselenggarakannya kerjasama, antara TNI AU dengan PT. Telemedia Nusantara dari Amerika yang lebih dikenal dengan proyek Ganesha, agar TNI AU mampu mandiri dalam mengoperasikan alutsista udara yang, ditangani oleh tenaga terampil dan “qualified” (mumpuni) dibidangnya masing masing. Alih teknologi pendidikan tersebut lebih dikenal dengan pengaplikasian metoda ISD.
Instructional System Deyelopment adalah suatu proses perencanaan dan penyusunan program pengajaran yang dilakukan secara teliti dan teratur agar diperoleh kepastian bahwa siswa dididik dengan pengetahuan, ketrampilan dan sikap mental yang benar benar diperlukan untuk mampu melakukan pekerjaan tertentu dengan baik. Proses ini dapat juga diartikan sebagai pengelolaan program pendidikan dengan pendekatan sistem.

Langkah awal dari perencanaan tersebut memfokuskan pada kesiapan teknisi Instruktur bahasa Inggris Teknik, tenaga ahli kependidikan, piranti keras maupun lunak untuk kebutuhan pendidikan. Tujuan pendidikan ini adalah untuk mengubah tingkah laku, meningkatkan keterampilan maupun pengetahuan guna mendukung misi. Sedangkan sasarannya adalah agar dapat mengatasi perpermasalahannya sendiri, tanpa ketergantungan orang lain, dalam hal perawatan, perbaikan maupun pengoperasian pesawat terbang dan alutsista lainnya. Selain itu juga menyiapkan instruktur teknik yang merupakan tenaga inti sekaligus sebagai suatu keterpaduan yang harmonis dalam keutuhan dan kesatuan misi antara calon teknisi dan instruktur teknik.
Kaderisasi personil umumnya dan personil teknisi khususnya merupakan langkah strategis untuk pengembangan organisasi di satuan, mengingat semakin banyaknya personil teknisi senior yang mendekati purna tugas. Oleh karena itu pimpinan TNI AU segera melaksanakan kaderisasi dengan pembekalan maupun penguasaan bahasa Inggris umum maupun bahasa Inggris teknik untuk tetap menjaga agar alutsista udara selalu mampu operasional.
Perkembangan iptek yang semakin pesat dan cenderung canggih khususnya di bidang elektronika, perlu disiapkan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang profesinya untuk memahami dan dapat mengikuti setiap perkembangan yang ada. Alutsista udara yang sarat dengan kerumitan elektronika menuntut kompetensi dan potensi yang memadai. Sejak TNI AU memiliki pesawat A4, F 5, HS Hawk dan Sky Hawk, radar dan peluru kendali yang merupakan tantangan iptek yang harus dijawab dengan pembekalan yang memadai dari personil yang mengawakinya.
Technical Order dan buku buku petunjuk yang menyertai alutsista TNI AU yang notabene berbahasa Inggris, menuntut personil TNI AU untuk dapat secara aktif menguasai bahasa Inggris umum maupun teknik, secara lisan maupum tertulis guna pelaksanaan tugas di lapangan, di skadron udara, skadron teknik maupun skadron avionik serta teknik pembekalan alutsista udara.
Pada awalnya dilaksanakan pendidikan TELT I (Technical English Language Training I) dikenal dengan Sekolah Bahasa Inggris Teknik Angkatan Pertama dan ATELT (Advance Technical English Language Training I). Bagi mereka yang telah lulus mengikuti pendidikan SBITL maka melanjutkan pendidikan Instructor Training Course (ITC) atau Kursus Pendidikan Instruktur selama 3 bulan.
Pendidikan SBIT angkatan pertama diikuti 40 orang siswa yang berpangkat Prajurit Dua selama 7 bulan. Kemudian 20 orang siswa melanjutkan pendidikan AEEC (Aviation Electronic and Electricity Course dan berkembang menjadi Basic Electronic and Electricity Course) dan 20 orang lainnya melanjutkan ke BMSC (Basic Mechanical Speciality Course) yang berada di Wing Pendidikan Teknik dan Pembekalan Kalijati
Adapun Sekolah sekolah yang dikelola oleh Proyek Ganesha di Lanud Sulaiman yang mengunakan sistem ISD adalah sebagai berikut : Sekolah Bahasa Inggris Teknik, Sekolah Dasar Kejuruan Elektronika, Sekolah Kejuruan Dasar Pemeliharaan Radio, Sekolah Kejuruan Dasar Pemeliharaan Radar Umum, Sekolah Kejuruan Dasar Pemeliharaan Radar darat, Sekolah Kejuruan Dasar Pemeliharaan Radar Udara, Sekolah Kejuruan Dasar Pemeliharaan Alat Bantuan Navigasi dan Sekolah Kejuruan Dasar Pemeliharaan Alat Navigasi Udara.
Integrasi Wingdik 2 ke Lanud Sulaiman
Berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor Kep/23/III/ 1985 tanggal 11 Maret 1985 tentang Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur Kodikau dan jajarannya, maka diintegrasikan Lanuma Sulaiman dan Wingdik 2 menjadi Lanud Sulaiman yang bekedudukan dibawah Kodikau maka tugas pokok Lanud Sulaiman dititik beratkan pada penyelenggaraan pendidikan Elektronika, disamping itu juga menyelenggarakan operasi penerbangan dan pembinaan potensi dirgantara.
Berkaitan dengan Skep diatas maka Wing Dik 2 sejak berdiri tahun 1960 dinyatakan dibubarkan dan seluruh tugas dan fungsinya serta sekolah yang ada di dalamnya dikelola oleh Lanud Sulaiman. Komandan Wing Pendidikan 2 yang terakhir adalah Kolonel Lek Abdullah, sedangkan Komandan Pangkalan pada saat itu dijabat oleh Kolonel Pnb Aries dan Wakil Komandan Pangkalan yang pertama dijabat oleh Letkol Lek Suharbi tahun 1985 – 1987, kemudian seterusnya Kolonel Lek M. Chudhori tahun 1987–1990, Kolonel Lek. Sardjono tahun 1990 – 1992, Kolonel Lek. Soewito Kardisan MSEE tahun 1992 – 1995 , Kolonel Lek I Nengah Sudiarsa tahun 1995-1997, Dan Kolonel Lek Irwan Marwanto mulai Oktober 1997 menduduki jabatan Wadan berakhir tanggal 6 Oktober 1999.
Adapun Komandan Wingdik 2 dalam kurun waktu 1960-1985 adalah Letnan Kolonel Udara Toni Suwartono tahun 1965-1968, Kolonel Udara Kusnadi tahun 1968-1970, Letnan Kolonel Udara Djumadibroto tahun 1970-1976, Kolonel Lek Wasto Sudijat tahun 1976-1979, Kolonel Lek Soegiharto tahun 1979-1982 dan Kolonel Lek Abdullah tahun 1982-1985.
Kemudian berdasarkan Keputusan Kepala Staf TNI AU Nomor : Kep/ 42/III/1987 tanggal 30 Maret 1987, tugas pokok Pangkalan TNI AU Sulaiman adalah menyelenggarakan pendidikan TNI AU, Operasi Udara, dan pembinaan potensi dirgantara. Struktur organisasi Pangkalan TNI AU Sulaiman sesuai keputusan tersebut terbagi dalam 2 tingkat, yaitu : Tingkat Markas Pangkalan (Malanud) terdiri dari Eselon Pimpinan (Komandan, dan Wakil Komandan) dan Eselon Pembantu Pimpinan Staf (Ruang operasi, Kelompok Ahli, Program Anggaran, Hukum, Sosial politik, Pengadaan, Pemegang Kas, dan Penerangan dan Perpustakaan) serta Eselon Pelayanan (Sentral Komunikasi, Sekretariat).
Di samping itu Eselon Pembantu Pimpinan Pelaksana yaitu Dinas Operasi, Dinas Personil, Dinas Logistik. Tingkat Pelaksana terdiri dari Sesarcabpalek. (Sekolah Dasar Kecabangan Perwira Elektronika); Sedasavi. (Sekolah Dasar Avionik); Sekomnav (Sekolah Komunikasi dan Navigasi); Seradar (Sekolah Radar); Seavi (Sekolah Avionik) Seradum (Sekolah Radar Umum); Seradrat (Sekolah Radar Darat); Seradud (Sekolah Radar Udara); dan Rumah Sakit Tipe IV.
Pendidikan di Lanud Sulaiman memiliki pola pendidikan dengan menggunakan sistem Instructional System Development (ISD) atau Pengembangan Sistem Pengajaran dan non ISD.
Di antara sekolah-sekolah yang masuk kategori ISD adalah SBIT, SBITL, Sesarjurlek, Sejursarharrad, Sejursarhar Albanav, dan Sejursarhar Alnavud, Sejursarhar Radum, Sejursarharradrat (Sekolah Kejuruan dasar Pemeliharaan Radar Darat); Sejursarhar Radud (Sekolah Kejuruan Dasar Radar Udara).
Comments